Islam Sebagai Karakter Kita Dalam Kehidupan Sehari-hari

Artikel Oleh : Sayyidina Ali
Samprazaan Sampurasun

Sudahkah Islam Menjadi Karakter Kita Dalam Kehidupan Sehari-hari ?

Rasa syukur senantiasa kupanjatkan kepada Sang Maha Pencipta Sholawat senantiasa kuhadiahkan untuk panutan alam, Muhammad SAW.

Islam berasal dari kata akar yg sama dengan “salam” yang artinya damai. Hari – hari seorang muslim penuh dengan doa kedamaian. Coba hitung setiap sholat kita mengucapkan salam dalam tasyahud dan salam diakhir sholat. Saat bertemu dengan muslim lainpun kita mengucapkan salam. Kalo mau dihitung mungkin kita sudah mengucapkan salam sebanyak minimal 20 × dalam sehari.

Pertanyaannya adalah : sudahkan salam itu menjadikan karakter kita dalam kehidupan sehari hari ? Dari 99 Asma Allah, yang dipilih dalam Basmallah adalah rohman dan rohim yaitu sifat kasih dan sayang. Siapapun ciptaan-Nya Yang Maha tidak pernah pilih kasih terhadap suatu kaum, melainkan untuk semua ciptaan-Nya tanpa terkecuali. Nabi kita pun disebut “Nabiyyurrahmah” nabi yg penuh kasih dan sayang,  “Rahmat Buat Alam Semesta”.

Kata  rahmat buat alam semesta, bisa diterjemahkan dengan luas. Artinya rahmatnya bukan hanya untuk Muslim tapi juga untuk semua manusia tanpa terkecuali (Nabi pernah hidup berdampingan dengan yang bukan muslim), rahmatnya juga untuk tumbuh – tumbuhan (karena tumbuhan termasuk dari pada alam), rahmatnya juga untuk alam semesta.

Karena itulah agama kita disebut Diinurrahmah, Agama yang penuh kasih sayang. Tapi sayang kebanyakan sikap kita tidak mencerminkan ISLAM sesungguhnya. Akibatnya orang-orang tidak melihat keindahan islam.

Suka tidak suka, Islam dianggap …… Al Islamu Mahjubun Bil Muslimiin. “Ajaran Islam itu terhalangi oleh sikap muslimin / keindahan Islam itu tertutupi oleh perilaku muslim. Ada beberapa hal esensial  untuk menjadi muslim yang hakiki:

  1. Mempelajari dan memahami arti dari TAUHID.
  2. Al Quran menjadi sumber yang tepat
  3. Tidak Asbun
  4. Jangan setengah setengah harus sampai tuntas. Karena setengah setengah itu akan membawa perpecahan. Seseorang yang membaca satu buku jika dibandingkan seseorang yang membaca sepuluh buku akan berbeda. Biasanya seseorang yang membaca satu buku lebih cenderung tau segalanya dan pede alias bangga, tetapi seseorang yang telah membaca sepuluh buku akan berhati hati dalam mengambil tindakan itu dikarenakan dia beranggapan masih banyak buku yang belum dia baca.

Masyarakat kita masih lebih percaya dengan ucapan seseorang yang dianggap masyarakat “woow” , tanpa mau mencari tau dan berfikir. Semoga renungan diatas menggugah kita untuk bisa belajar dan memahami Islam serta bisa ikut serta memberikan contoh untuk orang disekitar kita.

ava1

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *